Langkah Cepat Di Jalur Yang Salah September 17, 2008
Posted by Mas Didik in Renungan dan Pemikiran.Tags: Agama, Pemikiran
trackback
Langkah Cepat Di Jalur Yang Salah
Taufik Nur Rohman*
Pembaca Budiman. Apakah hingga saat ini masih sering terbesit di benak Anda keraguan adanya kehidupan usai kematian menjemput. Masih terlintaskah di dada akan kebimbangan tentang ada-tidaknya hari pembalasan yang akan diterima atas segala perbuatan, fikiran, semasa kita menjalani hidup di dunia ini. Bila sekelumit pertanyaan ini, Anda jawab dengan “masih”, maka jangan risau. Anda bukan satu-satunya orang yang masih mengalami kebimbangan tersebut. Saya pun masih mengalami perasaan seperti itu sampai suatu saat saya temukan model berfikir yang “sedikit” bisa menghalau rasa bimbang tersebut dari benak saya.
Sekelebat, bisa diduga bahwa munculnya rasa ragu akan adanya kehidupan usai kematian disebabkan oleh belum berjalannya fungsi pengetahuan rasional analogis kita tentang hal tersebut. Akibatnya kita tidak mempunyai modal untuk menepis keraguan tadi. Berfikir analogis ini begitu penting karena kita tidak mungkin menggunakan metode eksperiment guna membuktikan ada-tidaknya kehidupan pasca kematian. Dalam dunia sufistik, sering kita dengar adanya individu yang pernah mengeyam kematian, lalu hidup lagi dan menceritakan pengalamannya. Kita tidak mengingkari adanya pengalaman spiritual seperti ini, tapi ini sifatnya sangat individual sekali, sulit diulangi lagi dan tidak bisa diperluas ke individu lain. Lalu, bagaimana dengan nasib kita yang tak berbakat untuk memperoleh pengalaman sufistik tersebut. Akankah kita bersikap dingin saja akan kehidupan pasca kematian. Untunglah kita telah dibekali model berfikir yang bermacam-macam sehingga kitapun bisa menyelesaikan masalah ini dengan cukup baik. Satu diantara dari sekian banyak kemampuan berfikir kita ialah kemampuan berfikir analogis seperti yang sudah disinggung di atas. Lewat daya jelajah dan daya tembus berfikir analogis ini memungkinkan kita untuk mendeteksi adanya kehidupan nanti, tanpa perlu mengalami peristiwa kematian di dunia ini terlebih dahulu.
Sederhananya, berfikir analogis adalah kegiatan nalar untuk menarik kesimpulan atas dasar kesamaan antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya. Bila satu peristiwa dalam realitas diterima keberadaannya, maka peristiwa lain yang mempunyai kualitas benang merah yang sama akan diterima pula keberadaannya, lalu dianggap sebagai dua peristiwa yang sebangun. Kata ‘kepala’, misalnya. Kata ‘kepala’ ini dipakai orang dalam berbagai konteks yang berbeda. Ada kepala sekolah, kepala keluarga, kepala dunia, dan tentunya ada kepala dalam konteks biologis, yaitu kepala sebagai bagian dari anggota tubuh kita. Penggunaan kata ‘kepala’ dalam berbagai konteks ini menggunakan model berfikir analogis. Fungsi ‘kepala’ dalam konteks sosial dianalogikan dengan fungsi ‘kepala’ dalam konteks biologis. Hal ini disebabkan, fungsi kepala dalam artian biologis mempunyai benang merah yang sama dengan fungsi kepala dalam konteks sosial. Secara struktural, sama-sama “di atas”. Secara fungsional, sama-sama memimpin. Kalau manusia tidak mempunyai kepala, maka ia dikatakan tewas. Kalau masyarakat tidak mempunyai kepala maka disebut masyarakat yang telah “tewas” pula.
Era kehidupan di alam nanti ternyata bisa pula dianalogikan dengan peristiwa di alam sekarang ini. Misalnya, kehidupan di alam nanti kita serupakan dengan peristiwa kelahiran seorang bayi. Bila ada bayi lahir, bisalah dikatakan bahwa bayi tersebut telah wafat. Wafat dari alam perut ibu, lalu lahir di alam dunia ini. Sekarang, bisalah ditarik seutas pendapat, kehidupan di alam nanti itu ternyata betul-betul “ada” dan ia merupakan kesinambungan dari alam dunia ini. Bagi mereka yang telah terbaring di dalam bumi, meninggalnya seseorang dari alam dunia ini akan dilihat sebagai kelahiran di alam pembaringan mereka. Kesimpulan seperti ini mau tidak mau musti diambil dikarenakan paksaan rasio sehat kita. Sekarang bagaimana, masih merasa ragu akan kehidupan nanti?
Kita ke wilayah persoalan yang agak berbeda. Sungguh irrasional bila ada pendapat, semesta ini dicipta oleh tuhan sambil bermain dadu. Semesta ini dicipta pasti dengan tujuan penciptaan. Jangankan tuhan, manusia saja sebagai hasil ciptaan-Nya bila membuat atau berbuat sesuatu pasti ada tujuannya. Dan salah satu, dari sekian tujuan penciptaan yang tak terhingga, ialah tuhan hendak berbagi keberadaan-Nya. Hal ini bisa dianalogikan, bila kita mempunyai informasi yang bagus, akan muncul dalam benak kita untuk berbagi informasi tersebut pada teman atau keluarga. Begitu pula dengan Sang Maha Ada. Karena “berkehendak” untuk berbagi keber-Ada-an, maka diciptakanlah “ada-ada” yang lain. Tentu saja, ada dengan “a” kecil. Maksudnya, “ada”nya karena diadakan dan ke-”ada”-annya sangat tergantung dari yang meng-Ada-kan.
Seterusnya, bila semesta ciptaan ini diulas, tentu tak akan lepas dari ulasan seputar kesempurnaan. Teramat tak masuk dinalar bila kesempurnaan semesta ini tidak berasal dari yang sempurna pula. Bila tak punya, tak bisa berbagi. Begitu juga dengan Sang Maha Sempurna, tentunya. Kalau tuhan tidak punya kesempurnaan dalam keber-Ada-an tentunya tuhan juga tidak bisa berbagi kesempurnaan dalam keber-ada-an. Dengan demikian, tindakan memustahilkan bahwa segala yang sempurna tidak berasal dari yang sempurna pula adalah tindakan yang sangat masuk nalar. Berikutnya, Zat Sempurna akan berjalin-berkelindan dengan Zat-Nya yang lain yaitu Zat Memelihara. Kesempurnaan ini, meniscayakan pula akan kesempurnaan pemeliharaan-Nya. Hal ini bisa dianalogikan dengan sederet pertanyaan contoh berikut. Mungkinkah ada seorang insinyur tehnik mesin yang faham detail dan sifat bahan untuk membuat sepeda motor tapi ia justru tidak tahu bagaimana cara merawat mesin sepeda motor yang telah dibuatnya sendiri supaya awet. Atau, mungkinkah akhlak Rasulullah saw yang dikatakan bersifat Quraniyah tapi Beliau saw sendiri malah tidak bisa menjaga perilaku yang Quraniyah sehingga menampilkan muka masam pada orang miskin sekaligus buta yang hendak minta bimbingan pada Beliau saw (lihat: surat 80. Abasa). Hal ini tidak mungkin terjadi, memang. Tapi, bila deretan pertanyaan ini masih juga didebat-sanggah dengan mengatakan, “mungkin saja” karena pertanyaan tadi memang diawali dengan kata “mungkin”, maka si pendebat-sanggah tersebut sudah layak menjalani rontgen mental. Pasalnya? Setiap pertanyaan yang diawali dengan kata “mungkin” tidak seenaknya bisa dijawab dengan “mungkin saja”. Bagaimana kalau pertanyaannya seperti ini: mungkinkah bagian itu ada yang lebih besar dari yang dibagi, atau mungkinkah ada lingkaran yang bersudut atau mungkinkah ada segitiga tanpa sudut. Sebenarnya, deretan pertanyaan yang disebut terdahulu tadi mempunyai kualitas esensi yang sama dengan deretan pertanyaan yang disebut belakangan. Semuanya akan mendapat jawaban, “tidak mungkin” karena memang bersifat aksiomatis. Begitu juga dengan Sang Maha Sempurna, pasti sempurna pula pemeliharaan-Nya. Lalu, bagaimana langkah yang ditempuh Sang Maha Sempurna dalam memelihara hasil ciptaan-Nya.
Salah satu cara yang ditempuh tuhan, dari sekian cara yang tak mungkin kita jangkau seluruhnya guna memelihara ciptaan-Nya, ialah Dia swt dengan ilmu-Nya mengangkat seorang di antara kita yang paling memenuhi syarat untuk dijadikan utusan-Nya, atau yang lebih populer disebut nabi. Kata ‘paling memenuhi syarat’ akan lebih menarik bila digaris bawahi. Maksudnya, Sang Maha Pemelihara tidak mungkin asal comot saat memilih siapa yang akan diangkat sebagai utusan-Nya. Guna lebih mempertajam hal ini, pemikiran yang bernuansa filosofis akan kita sapa pula, meski barang sejenak.
Seperti yang kita fahami bersama bahwa semesta ini selalu dalam keadaan berproses. Bila kita amati, konsekuensi dari adanya proses ini membentang dari yang paling tidak sempurna hingga yang paling sempurna. Misalnya, proses belajar di Perguruan Tinggi. Ini akan menghasilkan mahasiswa dengan predikat, droup out hingga cum laude. Proses belajar di SD, juga membentang, dari yang tinggal kelas hingga juara kelas. Begitu pula proses kehidupan yang dialami oleh umat manusia, hasilnya pun membentang pula dari yang paling tidak sempurna hingga yang paling sempurna. Para koruptor, bandit-bandit kemanusiaan, namrud, fir’aun, dst adalah prototype makhluk yang dicap sebagai droup out spiritual. Sedangkan para penyantun fakir miskin, orang-orang shaleh, para pejuang kemanusiaan, ulama dst adalah prototype manusia yang memperoleh predikat cum laude spiritual. Pada gilirannya, tuhan akan menetapkan siapa yang paling memenuhi syarat untuk diangkat sebagai utusan-Nya. Di sini, ada gerak ihktiari dari “bumi” lalu bersambut gayung dari “langit”.
Pada orbit yang berbeda sering muncul pertanyaan yang mengesankan olokan: kalau tuhan itu memang Maha Bijaksana mengapa tuhan tidak menjadikan semua manusia jadi nabi saja sehingga semua mencapai surga. Olokan seperti ini, bisa ditepis dengan mengatakan, mutu kemustahilan jika semua manusia memperoleh predikat nabi sebanding dengan mutu kemustahilan bila semua mahasiswa memperoleh predikat cum laude. Semustahil pula dengan, bila semua siswa SD jadi juara kelas. Lebih menukik lagi, bila semua manusia dijadikan nabi, berarti tuhan sendiri mengundang adanya kontradiksi di alam ciptaan-Nya. Artinya, tuhan yang menciptakan proses (baca:sebab) di semesta ini namun Dia swt sendiri malah mengingkari adanya konsekuensi yang membentang (baca:akibat) dari proses tersebut. Rasio sehat kita, spontan menolak kontradiksi ini. Tidak mungkin ada sebab tanpa ada akibat. Tidak mungkin ada proses tanpa membuahkan hasil. Bahkan, ada yang lebih menarik lagi dari persoalan ini, sekalipun agak bergeser dari bahasan tapi akan memperkaya argument: seandainya pun tidak ada sebab atau proses, ternyata hal ini tidak menghalangi timbulnya akibat. Lalu, apa akibat yang ditimbulkan bila tidak ada sebab. Akibat yang timbul: tidak ada akibat! Tanpa sebab, mengakibatkan tanpa akibat. Tambahan lagi, ternyata pengetahuan hubungan sebab-akibat dalam diri manusia ini merupakan pengetahuan yang sudah terberi. Ia merupakan fitrah rasio, naluri logika, sebagai bekal untuk memahami kesaling-kaitan segala sesuatunya di jagad ini, dan karenanya manusia tidak bisa menghindar dari peran pengetahuan yang sudah terpatri ini.
Sekarang, kembali ke persoalan di awal tulisan ini. Dengan telah diketahuinya keterpautan kehidupan, sekarang-nanti, konsekuensi logisnya ialah terpaut pula kepemimpinan, sekarang-nanti. Tidak ada pemilahan antara pimpinan politik dari pimpinan agama. Saat Musa as mendatangi fir’aun, status Beliau as tetap utuh, yaitu sebagai pimpinan politik yang membebaskan bangsa yahudi sekaligus pimpinan agama. Ketika Ibrahim as memperingatkan namrudz, posisi Beliau as cukup jelas pula. Saat Muhammad saw menuntaskan era jahiliyahpun tidak ada keterpisahan antara posisi Beliau saw sebagai utusan-Nya yang menerima kitab suci dan sebagai pimpinan politik. Dari sebab itu, rasio sehat kita mengatakan, dalam kepemimpinan sebenarnya tidak ada kata pemilihan umum karena yang paling tahu tentang siapa yang paling memenuhi syarat di antara kita untuk memimpin manusia hanyalah yang menciptakan manusia itu sendiri. Tidak ada nabi hasil pemilihan umum. Namun, tiba-tiba ada letupan pertanyaan di sini, lalu bagaimana dengan keadaan tertentu bila sedang atau sudah tak ada nabi seperti sekarang ini. Bukankah kondisi seperti ini meniscayakan pemilihan pemimpin secara umum!
Jawabnya berbentuk pertanyaan sederhana. Apakah disebabkan tidak adanya nabi akan berakibat pada terjadinya pemisahan antara kehidupan kini dari kehidupan nanti. Bukankah berlanjutanya kehidupan kini hingga nanti merupakan keniscayaan aksiomatis. Maka, bila kondisi sedang tak ada nabi, bumi ini tidak lantas kosong begitu saja dari kehadiran seorang pemimpin. Bila sampai terjadi kosong pimpinan, lalu siapa yang akan menjaga agama yang telah ditinggalkan para utusan, siapa yang bisa menafsirkan kitab suci yang telah diwariskan oleh sang nabi. Bila kondisi, sedang atau sudah, tidak ada nabi kita identikkan dengan, tidak ada seorang pemimpin yang telah ditunjuk oleh nabi sebelumnya, berarti semua penafsiran kitab suci ataupun ucapan para nabi pasca kenabian menjadi relatif. Bisa benar, bisa juga salah. Bila relatif, maka takkan pernah bisa diterapkan. Persoalannya? Bagaimana bila yang diterapkan justru hasil penafsiran yang salah. Sementara hasil penafsiran yang benar malah diabaikan karena dikira salah. Kesalahan dalam penafsiran kitab suci akan berakibat fatal bagi manusia! Untuk menghindari keadaan seperti ini maka, bila ada seorang yang memenuhi syarat, lantas diangkat sebagai nabi oleh tuhan –sebagaimana diuraikan di atas tadi– maka ia akan segera melakukan pengkaderan, dan pada saatnya nanti, kader yang memenuhi syarat pula, yang akan diangkat oleh sang nabi sebagai penerus kenabian demi menjaga ajaran-Nya. Jadi, rentang waktu antara nabi satu dan nabi berikutnya, tidak lantas kosong dari pemimpin, melainkan diisi oleh penerus kenabian yang kita sebut sebagai Ulil Amri atau Imam. Imam inilah yang akan menjaga ajaran agama yang telah diwariskan oleh para nabi untuk umatnya hingga Sang Maha Bijaksana mengangkat lagi nabi atau utusan berikutnya. Begitulah tongkat estafet kepemimpinan berpindah dari satu individu suci ke individu suci berikutnya. Dari sebab itu, kebijakan agar kita taat kepada Allah swt, Rosul saw dan Ulil Amri merupakan ‘kebijakan satu paket’ (lihat: surat. 4:59)
Design tuhan untuk membahagiakan manusia tentunya bersifat sempurna, universal dan langgeng. Maka, akan berlaku pula di era pasca kenabian terakhir. Nabi saw jauh-jauh hari telah mempersiapkan pula: siapa yang akan menjadi penerusnya. Siapa yang mampu menafsirkan al-Quran dan al-Hadist, secara benar menurut Allah swt. Sekaligus, memimpin untuk kebahagiaan umat, kini hingga nanti.
Teka-teki besar berikutnya, lalu siapa yang telah ditunjuk sebagai yang punya otoritas kepemimpinan atas manusia usai era kenabian. Mereka adalah para Imam dari keluarga Rasul saw. Oleh sebab itu, dalam setiap sholat disampaikan shalawat. Kepada Muhammad saw dan keluarganya –keluarga keimamahan–, kepada Ibrahim as beserta keluarganya –keluarga kenabian. Perlu ditandaskan, shalawat ini merupakan tahapan posisi spiritual kepemimpinan atas umat manusia. Pertama, Allah swt. Kedua, Muhammad saw. Ketiga Keluarga Muhammad. Keempat Ibrahim as, dan kelima keluarga Ibrahim. Jadi, posisi spiritual Muhammad saw dan keluarganya lebih tinggi dari pada Ibrahim as dan keluarganya, bahkan posisi keluarga Muhammad lebih tinggi dari pada Ibrahim dan keluarganya dan shalawat kepada Ibrahim as dan keluarganya inipun bersifat sunah karena, kita ini umatnya Muhammad saw dan bukan umatnya Ibrahim as.
Dari keluarga keimamahan Rasul saw, yang pertama memegang tongkat estafet kepemimpinan tercatat Imam Ali bin Abi Thalib kwh. Penting pula kita sampaikan di sini, tak ada satupun orang pasca kenabian yang menyandang gelar ‘Imam’ kecuali Beliau kwh. Beliau kwh adalah orang pertama kali yang menyandang gelar ‘Imam’. Di susul kemudian, ke dua cucu Beliau saw, Imam Hasan al-Mutjtaba, kemudian Imam Husein as-Syahid dan seterusnya lewat keturunan Imam Husein as-Syahid hingga Imam Mahdi. Inilah yang dimaksudkan sebagai, pohon yang diberkati sebagaimana kita baca dalam al-Quran.
Ada beberapa pertanyaan introspeksi evaluatif yang pantas kita tulis di lembaran hati kita yang paling dalam, Pembaca yang Mulia. Sudah selaraskah tapak demi tapak jalannya sejarah Islam, yang hingga kini masih kita yakini kebenarannya, bila ia harus berhadapan dengan urut-urutan logika sehat yang sangat aksiomatis –seperti terlihat di muka hinga akhir tulisan ini– Betulkah Nabi Muhammad saw belum mengabarkan: siapa yang bisa memimpin umat, menafsirkan sekaligus mentakwilkan al-Quran dan al-Hadist sepeninggal Beliau saw, dan dengan demikian sejuknya suasana rahmatallil’alamin bisa dirasakan segenap umat manusia.
Ataukah memang ada kesalahan dalam frame of referance system sejarah Islam. Bila dijawab dengan tidak betul, atau paling tidak belum tentu, lalu mengapa umat Islam sedunia tak pernah satu langkah dan sebegini terpuruk dalam kancah pergaulan dunia. Apa yang jadi penyebabnya bila bukan masalah yang barusan kita singgung di atas tadi –kita menduga Rasul saw belum mengabarkan siapa yang jadi pimpinan umat berikutnya– Bila jawabnya memang betul, berarti dilakukannya format ulang atas jalannya sejarah, lalu menatap masa depan secara lebih bersama merupakan langkah yang cukup tepat, dan ini merupakan jalan yang akan berujung pada penyelesaian. Namun, bila masih terasa berat hati untuk mengerti masalah ini dan tentu format ulang sejarah pun tak kunjung disentuh maka, langkah cepat di atas jalur yang salah, semakin cepat melangkah, semakin cepat salah arah, merupakan kemasan bahasa yang cukup mengena untuk melukiskan kondisi sepak terjang umat dewasa in.
Ada pandangan lain?
* Pengurus Daerah Surakarta Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI)
1. Kebahagiaan tidak diperoleh dari sukses dalam pekerjaan yang menghasilkan uang banyak. Kebahagiaan ditemukan dalam pekerjaan yang membahagiakan orang banyak (Jalaluddin Rahmat).
2. Kebahagiaan adalah adanya kesesuaian antara keinginan yang berasal dari dalam diri kita dengan realitas ysng tersedia di luar diri kita. Semakin sesuai, semakin bahagia orang tersebut. Dan tentu, sebaliknya (Umar Ibrahim).
Redaksi.
Bahasa Kita adalah bulletin Peradaban.
Terbit sebulan sekali.
Redaksi: Jl. Parang Kesit 1A Sondakan, Laweyan.
Pimpinan Redaksi : Taufik Nur Rohman.
Komentar»
No comments yet — be the first.